0


Cara Membuat Blog ABATASA

1. Terlebih dahulu membuat akun Gmail.
2. Setelah membuat Gmail, kemudian buka tab baru dan tulis abatasa.co.id
3. Kemudian akan muncul tampilan awal dari blog abatasa, muncul foto-foto member (anggota) yang memakai blog abatasa.
4. Di sebelah kanan atas ada tulisan “Belum jadi member” dan “Sign In”. Karena belum jadi member (anggota) maka klik tulisan “Belum jadi member”, maka akan muncul tulisan “ Daftar sekarang”, klik tulisan tersebut maka akan muncul data yang harus dilengkapi untuk menjadi member (anggota) komunitas muslim abatasa.
5. Lengkapi data yang ada, setelah selesai mengisi kemudian klik tulisan “Buat akun saya”.
6. Tunggu loading sebentar, kemudian kita bisa menggunakan blog abatasa karena sudah berhasil terdaftar menjadi member (anggota).
7. Karena tampilan awal masih kosong, langsung saja masukkan foto untuk dijadikan avatar (foto profil) dan layar.
8. Masukkan foto apa saja yang disuka, boleh foto sendiri, gambar pemandangan atau yang lain.
9. Setelah diisi semua, kita tinggal mengisi blog abatasa yang sudah dibuat dengan berbagai artikel, tugas maupun informasi yang bermanfaat yang bisa dibagikan kepada semua orang.

Dikirim pada 15 Juni 2015 di Tugas UAS
15 Jun


I. Pendahuluan
Negara-negara di dunia akhir-akhir ini seakan di kagetkan dengan kehadiran suatu kelompok agama baru yang berlandaskan islam. Kelompok agama ini dianggap oleh negara-negara Internasional adalah kelompok agama yang radikal, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kelompok ini adalah teroris. Kelompok agama ini adalah dalam bahasa Arab, negara ini disebut دوله الاسلاميةفي العراق والشام (Daulah Islamiyyah fie Iraq wa Syam), atau dalam bahasa Inggris ditulis dalam beberapa versi. Ada yang menyebutnya Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL), Islamic State in Iraq and Syria (ISIS), dan ada juga yang menyebutnya Islamic State in Iraq and al-Shām (juga disingkat ISIS) adalah sebuah negara dan kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah.
ISIS ini seolah menjadi masalah besar dan baru bagi negara-negara internasional. Hal ini dikarenakan ISIS merupakan kelompok yang didukung dan didirikan oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni, termasuk Dewan Syura Mujahidin dan Al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok pemberontak Jaysh al-Fatiheen, Jund al-Sahaba, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah dan Jeish al-Taiifa al-Mansoura, dan sejumlah suku yang mengaku Sunni. ISIS dikenal karena memiliki interpretasi atau tafsir yang keras pada Islam dan mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuannya, seperti melalui bom bunuh diri, menyiksa dan memukuli orang yang tidak sependapat, serta dengan menjarah bank. Target serangan ISIS diarahkan terutama terhadap Muslim Syiah.
Perkembangan pergerakan ISIS ini pun dirasakan oleh bangsa Indonesia, dimana sudah ada saudara kita yang mengikrarkan bahwa mereka bergabung kepada kelompok ISIS ini bahkan merekapun mengajak warga Negara Indonesia lainnya untuk mau bergabung bersama mereka. Kontroversi keberadaan organisasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merebak belakangan ini, setelah beredar video di youtube yang menayangkan pria berbahasa Indonesia mengajak untuk bergabung dengan ISIS. Pihak pemerintah melalui Kementerian Agama telah mengumpulkan berbagai Ormas Islam untuk menangkal eksistensi ISIS di Indonesia.
Untuk lebih memperdalam pemahaman kita mengenai ISIS, maka perlu dipahami dulu apa itu jihad, bagaimana awal mula gerakan itu terbentuk, lalu apa yang menyebabkan kelompok ini tidak dapat diterima oleh Negara-negara di dunia khususnya di Indonesia.

II. Rumusan Masalah
A. Apa pengertian Jihad?
B. Bagaimana sejarah terbentuknya ISIS?
C. Bagaimana menyikapi fenomena bergabungnya WNI ke dalam ISIS?
D. Bagaimana upaya pemerintah Indonesia dalam menangkal pengaruh ISIS?

III. Pembahasan
A. Pengertian Jihad
Jihad ialah berjuang untuk menegakkan kemurnian atau kesucian agama Allah. Jihad dapat dilakukan dengan lisan atau dakwah, dapat dilakukan dengan tulisan, dapat pula dilakukan dengan berperang. Peperangan tersebut perang dijalan Allah (fi sabilillah). Jihad dengan senjata baru dapat atau boleh dilakukan jika jihad dengan lisan dan tulisan tidak dimungkinkan lagi atau selalu mendapat rintangan dan halangan. Jihad hukumnya kardlu kifayah bagi mereka yang berakal sehat, dewasa, dan sudah ada kemampuan untuk berjihad dengan memegang tiga ketentuan di atas. Pengertian jihad disebutkan dalam Al-Qur’an diantaranya : QS. Al-Maidah: 53, QS. Al-An’am:109, QS. At-Taubah:24.[1]
Peperangan di dalam pandangan Islam, sifatnya insidententil, buat sementara, jika segala jalan perundingan sudah ditempuh tetapi menghadapi kegagalan. Demikian itu sering dikatakan dalam “membentuk negara Islam”.
Perang hanyalah karena keadaan terpaksa. Sebab itu, mengangkat senjata hanya boleh dilakukan kalau sudah tidak dapat dielakkan lagi. Lebih jauh kita sebutkan, bahwa berdasarkan kitab suci Al Qur’an, maka perang di dalam Islam hanyalah untuk tiga sebab :
1. Karena membela diri
2. Melindungi kehormatan agama
3. Membela bangsa yang teraniaya
Peperangan-peperangan inilah yang dinamakan jihad dalam Islam, yang oelh Al Ghazali dalam kedua bukunya dinamakan “perang yang bermoral dan menurut hukum”, dan oleh Maudhudi dinamakan “perjuangan yang revolusioner” (revolutionary struggle).[2]
B. Sejarah terbentuknya ISIS
ISIS (Islamic State Of Iraq and Suriah) merupakan organisasi islam yang bertujuan mendirikan Negara Islam namun bersimpangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. ISIS pertama kali dibentuk di wilayah Timur Tengah yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi.
ISIS adalah kelompok/organisasi gerilyawan Islam Irak dan Suriah, ISIS terbentuk dari akibat infansi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Setelah pendudukan Amerika Serikat di Irak, membuat negara tersebut porak poranda perekonomian lumpuh, bangunan-bangunan pemerintahan hancur akibat serangan AS, dan dilema pemerintahan kekosongan kepala negara karena Saddam Hussein ditangkap.
Amerika tidak mempunyai rencana yang matang membangun negara tersebut, Sejak itu kaum mayoritas Syiah mengambil alih kekuasaan dan pada gilirannya merepresi golongan Sunni. Tentu saja kalangan Sunni tidak diam saja. Pemberontakan kalangan Sunni mulai muncul. Kelompok teroris seperti Al Qaeda masuk ke Irak dan kelompok-kelompok pemberontak lokal yang terdiri dari kalangan minoritas Sunni mulai bertempur melawan tentara AS. Irak pun jatuh dalam perang saudara berdarah tahun 2006. Sejak itu, warga Irak terbelah berdasarkan agama, Sunni yang umumnya tinggal di utara dan Syiah yang umumnya di selatan.
Arab Saudi dan Iran merupakan dua negara penting dalam Sunni dan Syiah. Kedua negara itu tidak punya pemisahan antara agama dan negara, masalah dalam negeri dan uang yang banyak dari minyak. Kedua negara menyokong kelompok-kelompok yang bertempur melawan kelompok lain yang berbeda orientasi agama. Salah satu organisasi teroris yang disokong Saudi adalah Negara Islam Irak (ISI). Tahun 2010, Arab Spring pecah dan mengubah situasi di Timur Tengah. Namun, di Suriah, diktator Bashar Al Assad yang berasal dari kalangan Syiah tidak berpikir akan mundur dari jabatannya. Perang sudara pun terjadi. Tentara Assad membunuh rakyat mereka sendiri. Semakin lama perang itu berlangsung, semakin banyak kelompok-kelompok milisi asing bergabung dalam peperangan itu. Kebanyakan dari mereka datang karena alasan agama. Mereka bertujuan dapat mendirikan sebuah negara Islam di kawasan itu.
Salah satu dari kelompok itu adalah ISIS, yang sekarang menjadi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka sudah berperang di Irak selama beberapa tahun dan punya ribuan tentara yang terlatih baik dan fanatik. Mereka telah menguasai Irak utara dan sangat berhasrat untuk mendirikan negara berdasarkan agama yang mereka kelola sendiri. Kedatangan mereka mengubah perang di Suriah ke situasi yang tidak pernah diduga orang sebelumnya. ISIS sangat brutal dan radikal sehingga kelompok itu segara terlibat peperangan dengan hampir semua faksi lainnya dalam kalangan pemberontak Suriah. Mereka menyerang dan membunuh anggota kelompok teroris lainnya. Di wilayah yang dikuasai, mereka mendirikan negara Islam dengan aturan yang sangat keras, bahkan jika dibandingkan dengan Al Qaeda. Arab Saudi pun terkejut dan menarik dukungannya.
ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar al-Baghdady pada tanggal 9 April 2013, menyusul terjadinya perang saudara di Irak dan Suriah. Tentu saja proklamasi kemerdekaan ini masih bersifat sepihak, dimana Pemerintah Suriah dan Pemerintah Irak tak merestuinya. Begitu pula Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sama sekali belum mengakuinya sebagai negara yang berdaulat.
Jadi dalam sebuah ironi tragis sejarah, invasi AS justru melahirkan kaum teroris yang pada awal hendak disingkirkan AS. Kini, Irak malah menjadi lokasi sempurna pelatihan terorisme. Banyak kalangan internasional yang menduga bahwa ISIS ada dibawah kendali CIA untuk melancarkan propaganda politik memecah persatuan Islam. Bahkan ISIS dengan cepat masuk di Indonesia dan mulai menampakkan diri di publik.
ISIS baru-baru ini memutuskan bahwa sudah saatnya menguasai wilayah yang lebih luas di Irak. Sejak AS meninggalkan Irak, Perdana Menteri Nouri Al Maliki dari kalangan Syiah telah memonopoli kekuasaan dan sedapat mungkin mendiskriminasi golongan Sunni. Pemerintah Irak secara luas dinilai korup, tidak becus, dan tentu saja dibenci oleh sebagian besar warga negara itu. Meski secara de jure belum diakui negara-negara lain, faktanya ISIS telah menguasai wilayah seluas 400.000 km2, yang meliputi wilayah di Irak dan Suriah. Untuk sementara, Kota Raqqah yang berada di Suriah ditetapkan sebagai ibu kota negara.
Militer Irak mempunyai 300.000 tentara yang dibentuk dengan menghabiskan 25 miliar dollar AS uang pajak, tetapi mereka tidak loyal kepada pemerintahnya dan telah mundur atau bubar. Sejumlah kota di negara itu pun jatuh ke tangan ISIS yang telah mengumumkan bahwa siapa saja yang menentang mereka akan dibunuh. ISIS telah membuktikan bahwa mereka serius dengan ancaman tersebut.
Daerah kekuasaan ISIS terbagi menjadi 16 wilayah administrasi, dengan rincian sebagai berikut :
Daerah kekuasaan ISIS di Irak meliputi wilayah Selatan, wilayah Diyala, wilayah Baghdah, wilayah Kirkuk, wilayah Salahuddin, wilayah Anbar, wilayah Ninewa. Sedangkan Daerah kekuasaan ISIS di Suriah meliputi wilayah Al Barakah (Hasaka), wilayah Al Kheir (Deir al Zour), wilayah Al Raqqah, wilayah Al Badiya, wilayah Halab (Aleppo), wilayah Idlib, wilayah Hama, wilayah Damaskus.
Pada 24 Juni 2014, ISIS merebut sebagian wilayah Irak, termasuk kota Mosul, kota terbesar kedua di negara itu. Mereka menguras ratusan juta dana dari bank-bank yang mereka kuasai. Pengurasan dana bank itu membuat mereka menjadi kelompok teroris terkaya di dunia.[3]
C. Fenomena bergabungnya WNI ke dalam ISIS
a. ISIS Masuk ke Indonesia
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Banyak pihak yang khawatir gerakan tersebut tumbuh subur di Indonesia. Dilihat dari karakteristik pergerakanya, kemunculan ISIS dianggap mirip dengan kemunculan Ikhwanul Muslimin. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya bergama Islam dan jumlahnya terbesar di dunia, maka besar kemungkinan Indonesia menjadi target dari ISIS dalam upayanya menegakan khilafah tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan sejak awal sudah mendeteksi masuknya paham Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ke Indonesia. Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayor Jenderal Agus Surya Bhakti mengatakan paham ISIS sudah masuk ke Indonesia sebelum gerakan tersebut dideklarasikan di Timur Tengah. Paham tersebut masuk ke Indonesia lebih banyak melalui jaringan Internet. Masyarakat Indonesia, dengan mudahnya mengakses informasi seperti berita, artikel, hingga video tentang paham ISIS melalui dunia maya.
Awal mula ISIS masuk ke Indonesia ialah melalui Internet dan melalui salah satu anggota ISIS dari Indonesia yang kembali ke Indonesia kemudian menyebarkan paham tersebut kepada masyarakat sekitarnya. ISIS dikenal ke masyarakat luas terutama melalui media internet yaitu youtube.com, dimana terdapat salah satu pengikut ISIS disertai beberapa rekannya mengajak para penonton untuk bergabung dengan ISIS. Selain itu, dilakukan juga melalui pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.
Sampai saat ini belum diketahui data jumlah anggota ISIS, termasuk pengikutnya di Indonesia. Kelompok ini menggunakan media sosial dalam menyebarkan pengaruh dan merekrut anggota di seluruh dunia. ISIS memiliki akun Twitter bernama Fajr Al-Bashaer (@Fajr991) untuk merekrut anggota baru yang mau bergabung. Para pendaftar akan dimintai data personal dan selanjutnya mereka akan dikirimi berita seputar pertempuran ISIS di Irak dan Suriah serta perkembangannya.
ISIS merilis video di youtube yang berjudul ‘*Join The Ranks*’, isinya adalah seseorang yang menyebut dirinya Abu Muhammad Al-Indenosi meminta warga Indonesia untuk mendukung perjuangan ISIS menjadi khilafah dunia. ISIS menerbitkan surat kabar elektronik dan cetak dalam bahasa Inggris dan Arab.
Pada tanggal 9 Agustus 2014, Menteri Agama telah bertemu dengan hampir semua organisasi masyarakat dan organisasi kepemudaan yang berazaskan Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, FPI, Forum Umat Islam, HMI, KAMMI, dan lainnya. Pada forum tersebut disepakati bahwa ISIS merupakan gerakan yang radikal dan tidak sesuai dengan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Menag dan Ormas Islam juga sependapat untuk menolak keberadaan gerakan ISIS di bumi Indonesia. Menag bahkan mengancam akan mencabut kewarganegaraan orang yang berangkat ke Irak/Suriah dalam rangka bergabung dengan ISIS.
Pada 2013 diduga ada 56 orang Indonesia dari berbagai macam organisasi Islam dan kelompok pedagang berangkat ke Irak untuk bergabung dengan ISIS. Mereka bergabung saat pergi ke Arab Saudi untuk ibadah haji atau umrah. Jumlah tersebut, sekitar 16 orang telah kembali ke Tanah Air dan melanjutkan proses perekrutan di daerah masing-masing.
Jika kita melihat dokumen yang dikeluarkan ISIS ada beberapa poin yang harus di ikuti oleh pengikutnya, seperti mengibarkan bendera ISIS yang berkalimat syahadat, setiap orang yang sudah dibait wajib membentuk bataliyon, dan siap mati demi tegaknya khilafah. Dan bagi siapa saja membiarkan negara dalam hukum kafir, dia adalah bagian dari orang kafir. Doktrin-doktrin yang dikeluarkan oleh ISIS tersebut dapat memicu tindakan radikal dari sekelompok masyarakat Indonesia yang merasa sejalan dengan gerakan ISIS tersebut.
b. Pertentangan ISIS di Indonesia
Alasan mengapa ISIS di tentang di Indonesia karena Menyebarnya pengaruh ideologi yang dibawa Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia membuat beberapa ormas Islam di Indonesia angkat bicara. Lebih dari 10 ormas Islam Indonesia, seperti Dewan Masjid, GP Ansor, PBNU, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia menegaskan penolakannya terhadap ideologi yang dibawa Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.
Penolakan itu didasarkan pada tindakan biadab yang dilakukan oleh kelompok militan tersebut. Menurut para perwakilan ormas tersebut, ideologi ISIS bukanlah ideologi Islam. Mereka cenderung membawa paham radikal untuk melakukan pembantaian terhadap saudara-saudaranya sesama muslim dan juga melakukan kejahatan terhadap non-muslim.
Dikabarkan beberapa umat Islam di daerah-daerah tertentu di Indonesia tetap menyatakan dukungannya terhadap Negara Islam Irak dan Suriah tersebut. Aksi dukungan kepada kelompok militan tersebut sudah terjadi di sejumlah daerah seperti Bekasi, Malang, Solo, dan Bima.
Ideologi yang dianut ISIS adalah kekerasan, sehingga dikhawatirkan paham itu akan merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, dan dengan tegas harus ditolak oleh Pemerintah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan, ada tiga hal yang menjadi sorotan lembaga itu terhadap gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), diantaranya :
1. Sisi pendanaan
Tindakan-tindakan ISIS yang radikal adalah salah satunya dengan menjarah Bank di Negara Irak sehingga ISIS memiliki dana yang cukup besar dimana dengan cara seperti itu tidak dibenarkan dalam Islam.
2. Adanya baiat
Dalam baiat itu terdapat indoktrinasi. Islam itu merupakan rahmatan lil alamin, tidak ada ajakan dengan cara kekerasan. Islam itu cinta damai, tak mengenal kekerasan dan tidak ada pemaksaan. Baiat itu kan pemaksaan, bertentangan dengan Islam. Dalam hal ini ISIS mengajak para warga lainnya dengan cara paksaan, yakni jika warga tidak mau bergabung, maka nyawalah taruhannya, dimana mereka akan dibunuh dengan cara yang kejam, yaki ditembak, lalu disembelih lehernya dan dengan bangga mereka memperlihatkan kepala sang korban kepada seluruh dunia melalui video-video yang mereka unggah ke situs youtbe.
3. ISIS adalah sistem kekhalifahan daulah Islamiyah (negara Islam)
Daulah Islamiyah ini tidak ada di Indonesia karena Indonesia sudah menganut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan harga mati. Dengan masuknya ISIS ini ke Indonesia, maka dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI kita. Menurut MUI : ISIS sudah haram, tidak perlu Fatwa. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas melarang tumbuh dan berkembangnya gerakan kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Bahkan, gerakan radikal ini juga disebut sebagai salah satu perbuatan yang dilarang bagi umat Islam atau ISIS dinyatakan sebagai gerakan haram. ISIS menjadi haram karena melakukan tindakan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan yang sudah keluar dari ajaran Islam. ISIS tidak sesuai dengan karakter Islam. Tindakan itu yang diharamkan oleh Islam.
Tindakan ISIS terkenal kejam dan biadab. Anggota ISIS melakukan pembantaian terhadap kaum syiah di Irak dan Suriah juga melakukan tindakan keji terhadap warga sipil apapun suku dan agamanya yang berada di wilayah yang telah mereka kuasai.
ISIS musuh nomor satu umat Islam. Syaikh Abdul Aziz al-Sheikh, Mufti tertinggi di Arab Saudi, menetapkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang kini menyebut diri mereka Negara Islam dan juga Al-Qaeda sebagai “musuh nomor satu” umat Islam. Dalam pernyataan yang dikeluarkan di Riyadh, ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat Islam di Arab Saudi tersebut mengatakan tujuan utama kelompok ekstrem ini adalah memecah belah umat Islam yang ia sebutkan sebagai kejahatan terbesar.
Gerakan ISIS cenderung mengarah pada radikalisme. Gerakan itu muncul akibat pemahaman yang terlalu tekstual terhadap Al Quran, bukan kontekstual. Padahal, turunnya sebuah ayat Al Quran dan hadis Nabi memiliki asal usul dan latar belakang masing-masing. Turunnya sebuah perintah itu tak bisa dilihat dalam tekstual saja, tetapi juga harus dilihat latar belakangnya atau asbabun nuzul. Itu yang namanya pemahaman kontekstual.
Polisi meminta masyarakat untuk tidak memberi ruang kepada Islamic State of Irak and Syiria (ISIS). Pasalnya ISIS dianggap menyimpang dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. ISIS dilarang di Indonesia karena bertentangan dengan konstitusi kita Pancasila, dan UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika. ISIS adalah organisasi yang kerap melakukan kekerasan, dan ingin merebut kekuasaan melalui kekerasan.
Selain bertentangan dengan azas dasar negara, ISIS juga bertentangan dengan Undang-Undang Ormas Nomor 17 Tahun 2013, setiap warga negara Indonesia dilarang bertentangan dengan pancasila. Demokrasi, bebas mengeluarkan pendapat, tetapi jangan merugikan masyarakat, ada aturan yang harus dipedomani, jadi jangan sampai atas nama demokrasi masyarakat melakukan kekerasan.[4]
D. Upaya pemerintah Indonesia dalam menangkal pengaruh ISIS
Pemerintah dituntut bersikap proaktif dalam membendung gerakan ISIS agar pengaruhnya tidak menyebar di Indonesia. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diupayakan pemerintah dalam menangkal pengaruh ISIS yaitu :
1. Pemerintah harus memberi penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.
2. Pemerintah harus menggandeng para tokoh, baik dari kalangan keagamaan, masyarakat dan adat untuk berdialog sekaligus penggalangan kerjasama guna mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat.
3. Memanfaatkan lembaga-lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS. Pasalnya, kelompok yang paling mudah terpengaruh biasanya adalah kelompok-kelompok yang rentan secara ekonomi, maka upaya pencegahan harus dimulai dari lapisan terbawah.[5]

IV. Kesimpulan
Jihad ialah berjuang untuk menegakkan kemurnian atau kesucian agama Allah. Jihad dapat dilakukan dengan lisan atau dakwah, dapat dilakukan dengan tulisan, dapat pula dilakukan dengan berperang. Peperangan tersebut perang dijalan Allah (fi sabilillah). Jihad dengan senjata baru dapat atau boleh dilakukan jika jihad dengan lisan dan tulisan tidak dimungkinkan lagi atau selalu mendapat rintangan dan halangan.
ISIS adalah kelompok/organisasi gerilyawan Islam Irak dan Suriah, ISIS terbentuk dari akibat infansi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Setelah pendudukan Amerika Serikat di Irak, membuat negara tersebut porak poranda perekonomian lumpuh, bangunan-bangunan pemerintahan hancur akibat serangan AS, dan dilema pemerintahan kekosongan kepala negara karena Saddam Hussein ditangkap.
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Banyak pihak yang khawatir gerakan tersebut tumbuh subur di Indonesia. Dilihat dari karakteristik pergerakanya, kemunculan ISIS dianggap mirip dengan kemunculan Ikhwanul Muslimimin. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya bergama Islam dan jumlahnya terbesar di dunia, maka besar kemungkinan Indonesia menjadi target dari ISIS dalam upayanya menegakan khilafah tersebut.
Alasan mengapa ISIS di tentang di Indonesia karena Menyebarnya pengaruh ideologi yang dibawa Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia membuat beberapa ormas Islam di Indonesia angkat bicara.
Ada tiga hal yang bisa diupayakan pemerintah dalam menangkal pengaruh ISIS yaitu Pemerintah harus memberi penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI, Pemerintah harus menggandeng para tokoh, baik dari kalangan keagamaan, masyarakat dan adat untuk berdialog sekaligus penggalangan kerjasama guna mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat dan Memanfaatkan lembaga-lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS.

V. Penutup
Demikianlah makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Dan semoga apa yang telah kita diskusikan menambah rasa syukur serta menambah iman kita kepada Allah SWT. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah kami selanjutnya. Terima kasih.

[1] M. Abdul Mujib, Kamus Islitah Fiqh, (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994), hlm. 140
[2] Zainil Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Ghazali, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm. 390
[3] Http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam, diakses pada hari Kamis, tanggal 9 April 2015 pukul 11.48 WIB

[4] Http://latifahlia.blogspot.com/2014/10/makalah-tentang-isis-pertentangan-isis.html, diakses pada hari Kamis, tanggal 9 April 2015 pukul 12.08 WIB
[5] Http://www.sayangi.com/politik1/read/25766/pemerintah-resmi-larang-isis-ini-empat-langkah-pencegahannya, diakses pada hari Senin, tanggal 13 April 2015 pukul 12.26 WIB



Dikirim pada 15 Juni 2015 di Makalah


I. Pendahuluan
Pertumbuhan jumlah umat Islam di dunia, akhir-akhir ini begitu cepat. Islam tersebar ke seluruh pelosok dunia dan berkembang di berbagai benua. Agama Islam lahir pada abad ke -7 M di wilayah Asia Barat, tepatnya di kota Mekah, Arab Saudi. Dari kota suci Mekah ini, Islam menyebar ke berbagai wilayah di benua Asia, yakni wilayah-wilayah Asia Barat, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.
Di persimpangan Asia, ada sebuah negara yang mayoritas beragama Islam yaitu Afghanistan. Negara Afghanistan umumnya dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah, kadang-kadang dianggap berasal dari sebuah blok regional baik di Asia Selatan atau Timur Tengah karena memiliki hubungan budaya, etnolinguistik dan geografis dengan sebagian besar negara tetangganya.
Sebagai pelajar khususnya umat Islam, kita dituntut untuk dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam. Dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan tentang sejarah perkembangan Islam di Afghanistan.

II. Rumusan Masalah
A. Bagaimana letak geografis negara Afghanistan?
B. Bagaimana sejarah perkembangan Islam di Afghanistan?
C. Bagaimana karakteristik Islam di Afghanistan?
D. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Afghanistan?

III. Pembahasan
A. Letak Geografis Negara Afghanistan
Afghanistan merupakan daerah daratan yang terletak di “jantung”Asia Tengah. Afghanistan beribukota di Kota Kabul. Kota tersebut sekaligus menjadi kota terbesar di negara tersebut. Afghanistan berbatasan langsung dengan negara-negara tetangganya, yakni Timur dan Selatan berbatasan dengan Pakistan, disebelah barat berbatasan dengan Iran dan sebelah utara berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah seperti Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan. Afghanistan sendiri merupakan negara yang porak-poranda akibat dilanda perang. Akibatnya, negara ini pun menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Negara ini juga tidak memiliki akses sama sekali ke laut sehingga menyulitkannya dalam hal perdagangan.[1]
Luas wilayah Afghanistan mencapai 652.230 km2. Afghanistan Menduduki peringkat ke 41 sebagai negara terbesar di dunia. Jumlah penduduknya ditahun 2013 tercatat sebanyak 3.108.077 jiwa. Sebagian besar penduduk Afghanistan tinggal di kota Kabul. Pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan semakin hari semakin pesat dan diperkirakan ditahun 2050 jumlah penduduk akan terus bertambah hingga mencapai 82 juta jiwa.[2] Adapun bahasa resmi di Afghanistan ada dua bahasa resmi yaitu: Persia Afgan (50%), dan Pashtun (35%), beberapa bahasa lainnya yaitu bahasa-bahasa Turki (Uzbek dan Turkmenistan) yang digunakan oleh 11% rakyatnya, dan 30 bahasa-bahasa kecil, terutama Baluchi dan Pashai (4%). Banyak orang Afghanistan yang mampu menggunakan dua bahasa atau lebih.[3]
Afghanistan terdiri dari 34 buah provinsi. Adapun presentase penduduk Muslim di Afghanistan sebesar 99%. Dan dari mereka 80-85% adalah Sunni Mazhab Hanafi, sedangkan 15-20% adalah Syi`ah, mayoritas dari mereka adalah Imamiyah bersama dengan sejumlah kecil Ismailiyah. Ada juga pengaruh yang kuat tasawuf di kalangan Sunni dan komunitas Syiah. Di samping itu, juga terdapat sejumlah kecil orang-orang Hindu, Yahudi, Zoroster, namun jumlah mereka hanya sekitar 1%.
Afghanistan ialah negeri yang bergunung-gunung, walau ada dataran di utara dan barat daya. Titik tertinggi di Afghanistan berada Nowshak dengan ketinggian 7485 mdpl. Sebagian besar negara ini kering, dan pasokan air bersih terbatas. Afghanistan memiliki iklim tanah dengan musim panas dan musim salju yang dingin. Negara ini sering menjadi pusat gempa bumi. di samping ibu kotanya Kabul, terdapat kota-kota utama lainnya yaitu Herat, Jalalabad, Mazar-e Sharif dan Kandahar.[4]
B. Sejarah perkembangan Islam di Afghanistan
Islam masuk di Afghanistan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab melalui ekspedisi yang dipimpin oleh Asim bin Umarat-Tamimy. Pada masa Utsman bin Affan, Islam berhasil masuk wilayah Kabul dan sejak tahun 870 M peradaban Islam secara praktis telah mengakar ke seluruh Afghanistan. Dari masa Umawiyah di Damaskus dan Abbasiyah di Bagdad hingga sampai dipegang oleh dinasti-dinasti kecil seperti Ghaznawiyah, Ghuri, Khalji dan terakhir kesultanan Delhi dan Mughal di India. Kewilayahan Afghanistan telah mengalami akumulasi sejarah yang sangat kompleks khususnya dalam hal budaya dan politik, terutama dalam mempadukan antara kekuatan Persia dan Turki.[5]
Kekuasaan Islam begitu kuat pada masa pemerintahan Ghaznawiyah. Orang-orang Ghaznawiyah memerintah Afghanistan secara berturut-turut, dilanjutkan oleh orang-orang Khawarizmi. Menyusul penghancurannya oleh pasukan Mongolia pada masa Jenghis dan Hulaku. Negeri ini telah menderita di bawah kekuasaan Timurlank seperti penderitaannya di bawah kekuasaan para pendahulunya. Kemudian tunduk kepada keluarga at-Timuriyah (pengganti Timurlank).
Ketika kekaisaran Mongolia berdiri di India, mereka juga memerintahkan wilayah timur Afghanistan ini.adapun wilayah barat mengikuti pemerintahan ash Shafawiyah. Kemudian Afghanistan memantapkan kebebasan negerinya di bawah kepemimpinan Marwis Hutaki. Dia menguasai Iran dari orang-orang Shafawiyah. Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama karena Nadzir Syah al Afsari mengambil kekuasaan dengan mengambil Afghanistan dan Iran serta wilayah-wilayah lainnya yang cukup luas. Setelah terbunuhnya Nadzir Syah muncullah Afghanistan Modern sebagai sebuah negara yang independen.
1. Keluarga ad Durraniyah (Afghanistan dan sebagian India 1160-1258 H/ 1747-1842 M)
Setelah pembunuhan Nadzir Syah, Afghanistan memisahkan diri dari Iran, dan muncul sebagai negara modern yang independen. Rakyat Afghanistan lalu menoleh kepada pemimpin bangsa Afghanistan Ahmad Khan, pemimpin kabilah Abdali. Dia mengumumkan dirinya sebagai raja di Kandahar dan memakai gelar Dardurani atau mutiara zaman. Dia menguasai sisi timur dan kekaisaran Nadzir Syah hingga sungai Sind. Kekuasaan melebar hingga ke Herat, termasuk wilayah Kashmir, Lahore dan Multan.
Ahmad Syah dianggap sebagai pendiri Afghanistan modern. Dia termasuk salah seorang yang terkenal sebagai seorang pemimpin yang tegas dan administrator yang cakap. Dia wafat pada tahun 1187 H/1773 M.
Di belakang muncul anaknya, Tomur (1187-1208 H/1773-1793 M). Dialah yang memindahkan Ibukota ke Kabul. Setelahnya mulailah banyak terjadi pertikaian diantara anak-anaknya dan kabilah Barkazai yang berasal dari Afghanistan. Akibatnya pemerintah ini melemah dan wilayah India lepas pada tahun 1215 H/1800 M), lalu jatuh ketangan keluarga Barkazai.
2. Keluarga Barkazaiyah (Afghanistan 1242-1393 H/1826-1973 M)
Barkazai merupakan kabilah besar di Afghanistan. Dulu mereka adalah para menteri oarng-orang ad Durraniyah. Pemimpin mereka dan juga pendirinya, Daus Muhammad (1242-1280 H/1826-1863 M) mengambil kekuasaan secara bertahap sampai jatuhnya keluarga Duraniyah yang terakhir pada tahun 1258 H/ 1842 M.
Pada masa inilah orang-orang Inggris memasuki Afghanistan, namun mereka menghadapi perlawanan yang keras. Pada perang tahun 1254-1265 H/1838-1848 M Inggris kehilangan seluruh tentaranya. Mereka baru memantapkan penguasaannya atas Afghanistan pada tahun 1295 H/1878 M, sekalipun mereka ditimpa kekalahan secara berturut-turut.
Pada masa kekuasaan Amanullah (1919-1929 M) Afghanistan berhasil merealisasikan berbagai kemenangan atas Inggris. Inggris akhirnya mengakui kekuasaan Afghanistan pada tahun 1340 H/ 1921 M.
Raja terakhir dari keluarga ini adalah Muhammad Zahir Syah 91352-1392 H/1933-1973 M). Dia tetap memegang pemerintahan hingga Muhammad Daud, pendiri sistem republik pada tahun 1393 H/ 1973 M mengasingkannya.[6]
C. Karakteristik Islam di Afghanistan
Sebelumnya, penduduk di Afghanistan telah terasing selama berabad-abad dan dari waktu ke waktu, orang lain yang mulai bermigrasi ke Afghanistan. Gunung-gunung dan lembah subur menjadi salah satu faktor yang mendorong orang-orang untuk tinggal sehingga membawa banyak perubahan hingga menjadi seperti saat ini. Rakyat Afghanistan cenderung mempertahankan gaya hidup yang telah ada saat mereka belum melakukan migrasi. Dengan kondisi yang tertutup pegunungan, mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan dan hidup dengan cara yang mereka pilih. Para penduduk Afghanistan hidup dari hasil pertanian dan beternak hewan untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari.
Bentuk Islam di Afghanistan mendorong gaya hidup konservatif yang telah diterjemahkan ke cara hidup tradisional dengan ikatan keluarga yang kuat. Pandangan tersebut tidak tersebar ke seluruh negeri dan etnis minoritas memiliki interpretasinya sendiri soal hukum dan keyakinan moral. Hal ini menyebabkan Afghanistan terbagi-bagi dimana etnis Pasthun, Tajik, Uzbek dan etnis lainnya memiliki pandangan yang berbeda-beda. Akibatnya sangat sulit menegakkan hukum di padang gurun Afghanistan sehingga orang-orang mulai belajar untuk memerintah diri mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Hal ini telah menyebabkan penguatan hubungan dalam keluarga, namun membuat hubungan antar kelompok menjadi sangat renggang.
Sebagai negara muslim, ada beberapa hukum agama yang harus ditaati oleh semua orang di Afghanistan yang meliputi pakaian dan perilaku terutama kebiasaan makan. Pakaian barat tumbuh dan populer di Afghanistan, meskipun di daerah pedesaan sebagian besar pakaian merupakan pakaian tradisional dan pada umumnya ditentukan oleh kombinasi antara agama dan penggunaan. Orang-orang Afghanistan cukup konservatif dalam tata cara berpakaian mereka seperti kemeja lengan panjang dan celana panjang sehingga kulit mereka pun sangat sedikit ditunjukkan. Para perempuan juga harus menutupi kepala mereka, meskipun tidak menjadi keharusan untuk menutupi wajah mereka. Warga negara asing yang datang boleh mengikuti jejak lokal dan bisa memakai pakaian barat, tapi pastikan untuk menggunakan yang tertutup. Diharapkan untuk menutup kulit dari pergelangan kaki dan pergelangan tangan keatas.
Bagi perempuan yang bepergian ke Afghanistan, dianjurkan bepergian bersama suami, ayah, atau saudara. Seorang wisatawan wanita yang bepergian sendiri akan terlihat aneh dan jika wanita bepergian dengan seorang pria tanpa adanya hubungan keluarga atau pernikahan dianggap tidak pantas. Hal ini juga berlaku bagi pria yang menyentuh wanita atau bahkan memegang tangan istri atau menawarkan untuk berjabat tangan dengan wanita lokal dianggap tidak pantas.[7]
Sifat-sifat utama yang dimiliki bangsa Afghanistan adalah berani, mempunyai harga diri yang tinggi, menghormati saudaranya yang seagama, mudah bergaul, menghormati ulama, cerdas dan sederhana. Tidak berlebihan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang terjauh dari kerusakan moral sebagaimana dihinggapi oleh bangsa-bangsa muslim lainnya. Selain itu, bangsa ini juga selalu siap dalam membela Islam dengan berjihad yang telah dibuktikan dengan jihad panjang melawan uni soviet dan bonekanya.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Afghanistan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Afghanistan diantaranya :
1. Faktor Sosial Budaya
Wilayah Afghanistan terdiri dari gunung-gunung terjal, lembah dalam dan daratan. Karena posisinya terletak di jantung Asia, maka Afghanistan termasuk wilayah pusaran kebudayaan yang cukup penting bagi dunia Islam, terutama antara abad-abad pertengahan sejarah Islam, dimana tempat hubungan perjumpaan kebudayaan antara Persia, India dan Turki.
Masyarakat umumnya bertempramen keras dan pemberani karena kondisi lingkungan dan sejarah yang menerpanya. Pertikaian internal acapkali terkait dengan masalah sentimen masing-masing etnis tersebut, termasuk pertikaian terakhir antara kelompok bekas pemerintahan terdahulu pimpinan Burhanuddin Rabbani dan panglimanya Ahmad Syah Mahmoud, dengan kelompok pemerintahan Taliban. Pemerintahan Rabbani yang dituding kurang militan dalam Islam, banyak dikendalikan oleh orang-orang Tadzik, sedangkan Taliban sekarang berasal dari kelompok pelajar beretnis Pashtun.[8]
2. Faktor Ekonomi
Afghanistan ialah sebuah negara yang relatif miskin, sangat bergantung pada pertanian dan peternakan. Ekonominya melemah akibat kerusuhan politik, dan militer terkini, tambahan kemarau keras dengan kesulitan bangsa antara 1998-2001. Sebagian penduduk mengalami krisis pangan, sandang, papan, dan minimnya perawatan kesehatan. Kondisi ini diperburuk oleh operasi militer, dan ketidakpastian politik. Inflasi menyisakan banyak masalah. Menyusul perang koalisi yang dipimpin AS yang menimbulkan jatuhnya Taliban pada November 2001, dan pembentukan Otoritas Interim Afganistan (AIA) yang diakibatkan dari Persetujuan Bonn Desember 2001, usaha Internasional untuk membangun kembali Afganistan ditujukan di Konferensi Donor Tokyo untuk Rekonstruksi Afganistan pada Januari 2002, di mana $4,5 juta dikumpulkan untuk dana perwalian yang akan diatur oleh Bank Dunia. Wilayah prioritas untuk rekonstruksi termasuk konstruksi pendidikan, kesehatan, dan fasilitas kesehatan, peningkatan kapasitas administratif, perkembangan sektor pertanian, dan pembangunan kembali jalan, energi, dan jaringan telekomunikasi.[9]
3. Faktor Potensi Wilayah
Afghanistan memiliki berbagai sumber daya alam, di antaranya gas alam, minyak bumi, batubara, tembaga, sulfur, barit, timah, seng bijih besi, serta batu-batu mulia. Akibat perang antar etnik telah menghancurkan perekonomian mereka sehingga mayoritas umat Islam ini menjadi termiskin di dunia. Termasuk politik negara tetangga Pakistan dan Iran yang acapkali juga mempersulit kenyataan mereka. Apalagi negara-negara barat terutama Amerika Serikat yang terus menekan Afghanistan dengan tudingan melindungi Osama bin Laden yang dianggap sebagai tokoh yang terus mengajak melawan barat.[10]
4. Faktor Politik dan Gerakan Sosial Keagamaan
Secara historis, tentara Arab Muslim memasuki wilayah pada peralihan abad ke-8 M. Banyak kerajaan muslim muncul di wilayah itu dan memperluas wilayah Islam hingga ke Asia Tengah dan Selatan. Afghanistan modern adalah salah satu dari dinasti besar masa lalu di wilayah Dinasti Durraniyah yang didirikan oleh Ahmad Syah Durrani (1747-1772) yang memisahkan diri dari Mughal di India. Dinasti Durraniyah mulai terpecah-pecah pada peralihan abad 19 akibat pertumpahan darah dalam memperebutkan suksesi dan perang saudara yang berlarut-larut (1800-1880), juga akibat semakin besarnya tekanan dari luar yakni terjadinya pelanggaran terhadap batas Afghanistan oleh Inggris yang berkuasa di India dan Rusia. Hal inilah yang mengakibatkan dua kali perang Inggris-Afghanistan (1839-1842 dan 1879-1880) sehingga beberapa wilayah Afghanistan terlepas. Perang saudara dan campur tangan penjajah ini telah meninggalkan warisan, kemunduran terutama kebergantungan ekonomi, militer dan teknologi.
Dampak bantuan dan campur tangan asing terjadi setelah perang Inggris-Afghanistan II (1879-1880) ketika Inggris mengangkat Amir Abd Al-Rahman Khan (1880-1901) salah satu anggota keluarga Muhammadzai dari Dinasti Durraniyah. Dengan subsidi tahunan dan bantuan teknis Inggris, Amir Abd Al-Rahman “Besi” bisa mengonsolidasi kekuasaan atas seluruh negeri. Amir Abd Al-Rahman percaya bahwa kekuasaannya sebagai pemberian langsung dari Tuhan dan bukan dari dukungan rakyat atau kepala-kepala suku. Dia memakai gelar Dhiya’u al-Millati wa al-Din (cahaya bangsa dan agama) dengan tujuan untuk menjaga Afghanistan dari ancaman agresi asing dan gangguan internal. Amir Abd Al-Rahman menerapkan beberapa kebijakan diantaranya yaitu pengurusan harta wakaf kaum muslim dan pendidikan adalah tugas aparat negara, desa menggantikan komunitas etnis sebagai unit dasar administrasi. Kebijakan tersebut masih dipertahankan dalam pemerintahan putranya, Amir Habib Allah (1901-1919).
Raja Amanullah (1919-1929) cucu Amir Abd Al-Rahman memperkenalkan konstitusi Afghanistan yang pertama (1923). Dia berupaya mempromosikan gagasan persamaan dan pengembangan ideologi nasional yang didasarkan atas karakter-karakter umum seluruh warga Afghanistan, namun upaya itu gagal.
Muhammad Nadzir Syah (1929-1933) menggantikan raja Amanullah setelah selam sembilan bulan dalam masa transisi pemerintahan. Ia menyatakan keberhasilannya naik tahta adalah berkat rahmat Allah SWT dan pengorbanan rakyat Afghan. Nadzir Syah banyak menghapus program pembaruan Amanullah yang diilhami oleh Barat dan berupaya melegitimasi kekuasaan dinastinya dengan perangkat konstitusional. Dia meminta Majelis Agung (Loya Jirga), ketua-ketua suku, tokoh agama dan bangsawan lokal untuk mengesahkan konstitusi baru. Kemudian Raja Zahir Syah (1933-1973) melakukan kudeta militer, menghapuskan monarki dan mengumumkan dirinya sebagai presiden republik Afghanistan.[11]

IV. Kesimpulan
Afghanistan merupakan daerah daratan yang terletak di “jantung”Asia Tengah. Afghanistan beribukota di Kota Kabul. Afghanistan berbatasan langsung dengan negara-negara tetangganya, yakni Timur dan Selatan berbatasan dengan Pakistan, disebelah barat berbatasan dengan Iran dan sebelah utara berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah seperti Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan.
Islam masuk di Afghanistan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab melalui ekspedisi yang dipimpin oleh Asim bin Umarat-Tamimy. Pada masa Utsman bin Affan, Islam berhasil masuk wilayah Kabul dan sejak tahun 870 M peradaban Islam secara praktis telah mengakar ke seluruh Afghanistan.
Bentuk Islam di Afghanistan mendorong gaya hidup konservatif yang telah diterjemahkan ke cara hidup tradisional dengan ikatan keluarga yang kuat. Pandangan tersebut tidak tersebar ke seluruh negeri dan etnis minoritas memiliki interpretasinya sendiri soal hukum dan keyakinan moral.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Afghanistan adalah faktor sosial budaya, ekonomi, potensi wilayah dan perjalanan politik dan gerakan sosial keagamaan.

V. Penutup
Demikianlah makalah tentang perkembangan Islam di Afghanistan, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat pemakalah harapkan guna memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya. Terima kasih.


















Peta Afghanistan :



[1]Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam: Perspektif Etno Linguistik dan Geo Politik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 200
[2] Http://www.anneahira.com/afghanistan.htm, di akses pada hari Selasa tanggal 7 April pukul 4.42 WIB
[3] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), hlm. 285
[4] Http://id.wikipedia.org/wiki/Afganistan, di akses pada hari Selasa tanggal 7 April pukul 5.01 WIB
[5] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam,...hlm. 199
[6] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2003),hlm. 442-444
[7] Ahmad al Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Akbar Eka Sarana, 2003), hlm. 446-447
[8] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam,...hlm. 201-202
[9] Http://id.wikipedia.org/wiki/Afganistan, diakses pada tanggal hari Selasa tanggal 14 April 2015 pukul 03.41 WIB.
[10] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam,...hlm. 202
[11] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam,...hlm. 203-208


Dikirim pada 15 Juni 2015 di Makalah


Pendahuluan
Sejak mundur dan berakhirnya era Abbasiyah, keadaan politik umat Islam mengalami kemajuan kembali oleh tiga kerajaan besar Turki Utsmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Dari ketiganya, Turki Usmani adalah yang terbesar dan terlama, dikenal juga dengan imperium Islam.
Dengan wilayahnya yang luas membentang dari Afrika Utara, Jazirah Arab, Bahkan hingga Asia Tengah, Turki Utsmani menyimpan keberagaman bangsa, budaya dan agama, Turki Utsmani mampu berkuasa selama kurang lebih 7 abad berturut-turut. Tentunya hal ini membawa kesan tersendiri bahwa kerajaan Turki Utsmani mampu membawa masyarakat Islam dalam kejayaan.
Kekuasaan Ustmaniah merupakan periode terpanjang dalam sejarah Islam. Selama Pemerintahan Ustmaniah telah memainkan peran yang pertama dan satu-satunya dalam menjaga dan melindungi kaum muslimin. Ustmaniah merupakan pusat Khilafah Islamiah, karena merupakan pemerintahan Islam yang terkuat pada masa itu. Dalam makalah ini, pemakalah akan membahas perkembangan fiqh siyasah pada masa kerajaan Turki Utsmani fase awal.

Rumusan Masalah
Bagaimana sistem pemerintahan pada masa Turki Utsmani ?
Siapa saja raja-raja yang pernah berkuasa pada masa Turki Utsmani ?
Bagaimana dinamika Sosial dan Politik pada masa Turki Utsmani ?
Apa sajakah kemajuan yang di capai Turki Utsmani ?
Bagaimana perluasan wilayah pada masa Turki Utsmani?
Apa saja yang mempengaruhi kemunduran Turki Utsmani?

III.Pembahasan
A. Sistem pemerintahan Turki Utsmani
Dalam pelaksanaan pemerintahan, penguasa-penguasa imperium Utsmani bergelar Sultan dan khalifah sekaligus. Sultan ialah gelar mereka untuk masalah-masalah duniawi, sedangkan khalifah merupakan gelar untuk urusan keagamaan. Sistem pemerintahan Utsmani banyak mengadopsi praktik kenegaraan yang berlaku di Bizantium dan Persia. Untuk menjalankan kedua fungsi ini penguasa Utsmani dibantu oleh tiga kekuasaan, yaitu administrasi birokrasi (Men of the Pen), Militer (Men of the Sword) dan kekuasaan agama (Men of Religion). Dalam hal yang pertama kebijaksanaan yang akan diambil negara terlebih dahulu di diskusikan dan bicarakan dalam lembaga Divan-i Humayun (Imperial Council). Lembaga ini merupakan pusat organisasi pemerintahan Utsmani dan berasal dari konsep pemerintahan Turki Seljuk di Anatolia.
Pada awalnya Divan-i Humayun dipimpin langsung oleh sultan. Dialah yang paling banyak berperan membuat keputusan-keputusan penting kenegaraan. Namun sejalan dengan perkembangan dinasti yang semakin luas dan kompleksitas masalah-masalah kenegaran, sultan kemudian mengangkat salah seorang anggota Diwan-i Humayun menjadi ketuanya. Kepadanyalah sultan menyerahkan tugas-tugas kenegaraan dan berfungsi sebagai pemimpin eksekutif sejak 1360. Pemegang kekuasaan ini disebut Sadrazam (Shadr al-A’zam).[1]
Dibawah Divan-i Humayun terdapat defterdar yang bertugas dibidang fininsial-moneter. Defterdar antara lain berwenang mengurus dan mengumpulkan zakat, pajak perdagangan investor asing, jizyah dari berbagai daerah yang dikuasai Utsmani dan zakat. Defterdar berada dibawah pengawasan Sadrazam. Dalam pelaksanaan kekuasaan yang begitu luas di daerah kerajaan ini mengangkat gubernur (pasya) di tingkat satu dan bupati (zanaziq) di tingkat dua.
Dalam masalah-masalah agama, penguasa Utsmani dibantu oleh para mufti dan kadi (qadhi). Mufti berperan sebagai penafsir hukum, sedangkan kadi berperan sebagai pelaksananya. Mereka lah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan syariat Islam di dalam kehidupan Dinasti Utsmani.
Dalam kekuasaan keagamaan ini sultan atau khalifah dapat membuat perundang-undangan atas inisiatifnya sendiri.





Stuktur Pemerintahan Turki Utsmani




















Khalifah Sultan


Syaikh al-Islam Sadrazam










Mufti Qadhi Bey Defterder





Zanaziq



RAKYAT




B. Raja-Raja Yang Pernah Berkuasa Pada Masa Turki Utsmani
Dinasti Utsmani berkuasa selama kurang lebih 7 abad (1294-1924 M). Dalam kurun waktu tersebut, kerajaan itu dipimpin oleh 38 sultan. Berikut beberapa sultan yang memiliki pengaruh dan peran besar terhadap perkembangan Dinasti Utsmani.
1. Sultan Utsman bin Erthoghul (699-726 H/1294-1326 M)
Utsman diberi gelar Padisyah al-Usman (raja besar keluarga utsman). Pada masa awal kepemimpinannya, Utsman memantapkan kekuasaannya dan melindunginya dari serangan musuh, khususnya Bizantium. Utsman pun mulai menginvasi daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa pada tahun 1317 H, Broessa kemudian dijadikan sebagai ibu kota kerajaan.
2. Sultan Orkhan bin Utsman (726-761 H/1326-1359 M)
Pada masanya, mulai berdiri akademi militer sebagai pusat pelatihan dan pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar. Melalui gemblengan dari akademi inilah, dinasti ini dengan mudah menaklukkan sebagian daerah benua Eropa, seperti Azmir (Shirma) tahun 1327 M, Tawasyanli 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankar 1354 M dan Galliopoli 1356 M.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Orkhan berhasil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di Selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Orkhan I ini diberi nama Inkisyaiyah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.
3. Sultan Murad I bin Orkhan (761-791 H/1359-1389 M)
Sultan Murad I memantapkan keamanan di dalam negeri dan meneruskan perjuangan menaklukkan beberapa daerah di Eropa. Ia menaklukkan Andrianopel dan menjadikannya sebagai ibukota serta membentuk pasukan berkuda (kaveleri). Dalam pemerintahannya berhasil memperluas wilayah dalam penaklukan-penaklukannya dan menguasai sebagian Eropa Timut, seperti Somakov, Sophia Monatsir dan Salonika.
4. Sultan Bayazid I bin Murad (791-805 H/ 1389-1403 M)
Bayazid mempunyai pengaruh besar sehingga mencemaskan Paus. Kemudian, Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid. Dalam perang ini, pasukan Bayazid berhasil melumpuhkannya.
Namun, Bayazid mengalami kekalahan ketika berperang melawan Timur Lenk di Ankara. Bahkan putranya yang bernama Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M. Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Utsmani, sehingga penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki Utsmani.
5. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824/ 1403-1421 M)
Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai. Berkat usaha dan kegigihannya, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Utsmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat.
6. Sultan Murad II bin Muhammad (824-855 H/ 1421-1451 M)
Sultan Murad II berusaha menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Utsmani sebelumnya. Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kembali dan pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.
7. Sultan Muhammad al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)
Keberhasilan utamanya adalah menaklukkan Konstantinopel. Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum). Benteng dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaitsar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur.[2]
8. Bayazid II bin Muhammad (886-918 H/ 1481-1512 M)
Dia berhasil mengalahkan pemerintahan Venezia di Italia. Pada masanya, negara Rusia berdiri pada tahun 887 H/ 1481 M setelah melepaskan diri dari Tartar. Namun, pasukan kaveleri memaksanya menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, Salim pada tahun 918 H.
9. Salim I bin Bayazid (918-926 H/1517-1519 M)
Dia membuat ketetapan menyatukan umat Islam di bawah kekuasaan Utsmaniyah, untuk menghadapi kedatangan orang-orang salib. Dia mengalahkan pemerintahan as-shafawiyah yang telah bersekutu dengan orang-orang portugis menghadapi kaum muslimin. [3]
10. Sulaiman (al Qanuni) bin Salim (926-974 H/ 1519-1566 M)
Pada masanya pemerintahannya, Dinasti Utsmani mengalami puncak keemasannya. Saat itu, Dinasti Utsmani memiliki kekuatan militer yang sangat tangguh dan kuat. Sulaiman berjasa besar dalam penyebaran Islam di daratan Eropa. Mendapat gelar al Qanuni karena memiliki jasa besar dalam menyusun dan mengkaji sistem undang-undang kesultanan Turki Utsmani.[4]
C. Dinamika Sosial dan Politik
a. Kondisi Sosial Politik
Kekuatan sosial politik Utsmani terletak pada beberapa aspek antara lain etnis Turki yang mempunyai beberapa sifat yang mendukung keberhasilannya dalam memerintah. Sifat itu meliputi keberanian, ketaatan kepada pemimpin, kegigihan membela keadilan, kerajinan bekerja dalam kebersamaan, dan ketaatan kepada agama.[5]
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Utsmani berlangsung dengan cepat, hal ini diikuti pula oleh kemajuan dalam bidang politik, terutama dalam hal mempertahankan eksistensinya sebagai negara besar. Hal ini berkaitan erat dengan sistem pemerintahan yang diterapkan para pemimpin Dinasti ini. Selain itu, tradisi yang berlalu saat itu telah membentuk stratifikasi yang membedakan secara menyolok antara kelompok penguasa (small group of rulers) dan rakyat biasa (large mass). Penguasa yang begitu kuat itu bahkan memiliki keistimewaan :
1. Pengakuan dari bawahan untuk loyal pada Sultan dan negara.
2. Penerimaan dan pengamalan, serta sistem berfikir dalam bertindak dalam agama yang dianut merupakan kerangka yang integral.
3. Pengetahuan dan amalan tentang sistem adat yang rumit.
Yang terpenting adalah bahwa para pejabat dalam hal apapun tetap sebagai budak Sultan. Tugas utama seluruh warga negara, baik pejabat maupun rakyat biasa adalah mengabdi untuk keunggulan Islam, melaksanakan hukum serta mempertahankan keutuhan imperium.
Sebagai struktur masyarakatnya sangat heterogen, Dinasti Utsmani mempunyai kekuasaan yang menentukan nasib warga Timur Tengah dan Balkan, sampai pada tingkat yang luar biasa. Dinasti Utsmani tersebut mendominasi, mengendalikan dan membentuk masyarakat yang dikuasainya. Salah satu konsep utama yang diterapkan oleh Utsmani adalah perbedan antara askeri dan ri’aya, yakni antara kalangan elit penguasa dan yang dikuasai, elit pemerintah dan warga Negara, antara tentara dan pedagang, antar petugas pemungut pajak dan pembayar pajak. Bahkan, untuk menjadi kelas penguasa seseorang harus dididik dalam kebahasaan dan tata cara yang khusus yang disebut dengan tata cara Utsman. Seseorang dapat menjadi elit Utsmani melalui keturunan atau melalui pendidikan sekolah-sekolah kerajaan, kemiliteran atau pendidikan sekolah keagamaan.[6]
b. Perundangan dan Hukum
Pada masa kepemimpinan Sulaiman I, disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama multaqa al-abhur. Undang-undang ini menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19.[7]
Terbit juga undang-undang yang mengatur tentang pertanahan, yaitu Undang-Undang Agraria Utsmani, yang mengatur : tanah dibagi menjadi beberapa kategori ; al-Iqta’ al-asghar atau timar, diberikan kepada para tuan tanah (zi’amah), pemiliknya adalah mereka yang telah berjasa kepada Negara (khass), diberikan kepada wali atau gubernur.[8]
Sistem hukum Utsmaniyah mengakui hukum keagamaan atas rakyatnya. Pada saat yang sama sistem hukum sekuler diterapkan bersamaan dengan hukum keagamaan atau Syariah. Kesultanan Utsmaniyah selalu disusun dengan sistem yurisprudensi lokal. Urusan hukum di Kesultanan Utsmaniyah adalah bagian dari skema yang lebih besar untuk menyeimbangkan kewenangan pusat dan daerah.
c. Administrasi Negara
Sultan merupakan penguasa tertinggi selama pemerintahan Turki Utsmani, baik dalam bidang agama, politik, pemerintahan bahkan masalah-masalah perekonomian. Orang kedua yang berkuasa adalah wazir besar sebagai ketua badan penasihat kesultanan yang membawahi semua wazir dan amir.
Disamping itu, disetiap daerah seorang qadi yang merupakan pimpinan agama di daerah tersebut ia mempunyai kekuasaan untuk menjalankan hukum pidana dan perdata menurut syariat Islam berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Pada masa pemerintahan Salim I dibentuk pula Majelis Syaikhul Islam (Mufti), yang berkedudukan di Istanbul. Tugas utamanya adalah memberikan fatwa dalam semua permasalahan agama, termasuk keputusan perang terhadap sesama muslim. Mufti juga diberi hak untuk melantik pegawai-pegawai Istana di ibukota Istanbul.[9]
d. Peradilan
Pada masa kerajaan Turki Utsmani terdapat bentuk-bentuk peradilan yaitu :
1. Mahkamah Biasa/Rendah (al-Juziyat), yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara pidana dan perdata.
2. Mahkamah Banding (Mahkamah al-Isti’naf), yang bertugas meneliti dan mengkaji perkara yang berlaku.
3. Mahkamah Tinggi (Mahkamah al-Tamayz au al-Naqd wa al-Ibram), yang bertugas memecat para qadhi yang terbukti melakukan kesalahan dalam menetapkan hukum.
4. Mahkamah Agung (Mahkamah al-Isti’naf al-Ulya), yang langsung di bawah pengawasan Sultan.
Lembaga peradilan (qadha’) belum berjalan dengan baik, karena terdapat intervensi dari pemerintah, bahkan sistem peradilan dikuasai oleh kroni-kroni dan pejabat pemerintah. Jadi belum tampak dengan jelas pemisahan antara urusan agama dan pemerintahan.[10]
e. Hubungan Internasional
Hubungan internasional kerajaan Turki utsmani dengan Aceh secara tak resmi sudah ada sejak tahun 1530-an. Sultan Alauddin al-Qahhar berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut untuk mencoba mengusir Portugis dari Malaka, dan memperluas kekuasaannya di Sumatera.
Ekspedisi yang dilakukan Turki Utsmani menyebabkan berkembangnya pertukaran antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani dalam bidang militer, perdagangan, budaya dan keagamaan. Penguasa Aceh berikutnya meneruskan pertukaran dengan Khilafah Turki Utsmani, dan kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah.[11]
D. Kemajuan yang di capai Turki Utsmani
a. Keilmuan
Kerjaaan Turki Utsmani kurang berhasil dalam ilmu pengetahuan disebabkan hanya mengutamakan kekuatan militer sehingga kemajuan dibidang intelektual pada masa pemerintahan Turki Utsmani tidak begitu menonjol, adapun aspek-aspek intelektual yang dicapai yaitu:
a. Terdapat dua buah surat kabar yang muncul pada masa itu, yaitu berita harian Takvini Feka, Jurnal Tasviri efkyar dan Terjumani Akval.
b. Terjadi transformasi pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah, perguruan tinggi serta fakultas kedokteran dan hukum. Para pelajar yang berprestasi juga dikirim ke Prancis untuk melanjutkan studinya, yang sebelumnya tidak pernah terjadi.[12]
c. Ekonomi dan Perpajakan
Pada masa puncak kemajuannya, semua daerah dan kota penting yang menjadi pusat perdagangan dan perekonomian jatuh ketangannnya. Daerah-daerah yang ditaklukkan dari segi ekonomi merupakan masukan bagi sumber ekonomi kerajaan. Dengan demikian tidak mengherankan jika dinasti Turki Utsmani mendapat kemajuan ekonomi melalui perdagangan. Sebagai contoh kegiatan perdagangan itu adalah adanya kerjasama perdagangan antara Dinasti Turki Utsmani dengan Inggris, Genoa, Venisia dalam jual beli jagung, kacang-kacangan dan timah.
Turki Utsmani menguasai beberapa kota pelabuhan utama, sebagai penyelenggara perdagangan, pemungut pajak (cukai) pelabuhan yang menjadi sumber keuangan yang besar bagi Turki. Selain dari sumber perdagangan, Turki Utsmani memiliki sumber keuangan Negara yang sangat besar, yaitu dari harta rampasan perang, dari upeti tanda penaklukkan Negara-negara yang ditaklukkan.
d. Perdagangan, Industri dan Pertanian
erdagangan yang ada di bawah komando Utsmani ada beberapa wilayah yaitu Aegean dan Laut Timur Mediterania (komoditas perdagangan di wilayah ini yaitu gandum), kemudian antara Laut Merah dengan Teluk Persia (komoditas perdagangan utamanya yaitu rempah-rempah), Laut Hitam dan Laut Barat Mediterania (komoditasnya yaitu gandum dan kayu).
Keberhasilan Turki Utsmani dalam memperluas kekuasaan dan penataan politik yang rapi, berimplikasi pada kemajuan sosial ekonomi Negara, tercatat beberapa kota industri yang ada pada waktu itu, antara lain :
a. Mesir yang memperoleh produksi kain sutra dan katun.
b. Anatolia memproduksi bahan tekstil dan wilayah pertanian yang subur.
Kota Anatolia merupakan kota perdagangan yang penting di rute Timur dalam perindustrian dalam hasil industri dan pertanian di Istanbul, polandia dan Rusia. Para pedagang dari dalam maupun dari luar negeri berdatangan sehingga wilayah Turki menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu.[13]
Rata-rata sumber penghasilan warganya berasal dari usaha keluarga berskala kecil di bidang pertanian. Ada beberapa faktor peningkatan produktifitas sektor pertanian Utsmani, seperti perbaikan irigasi, pemberian subsidi serta peningkatan peralatan pertanian modern. Daerah-daerah yang menjadi sumber pertanian Utsmani yaitu daerah-daerah pegunungan, seperti diAnatolia, salah satu wilayah di provinsi Syiria. Kebijakan politik pemerintah pusat Utsmani, sekali lagi menjadi kemunduran pertanian Utsmani.
e. Militer dan Pertahanan
Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi tempur Utsmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan mliter yang besar ini dilanda kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut segera dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan megadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer.
Perbaharuan dalam tubuh orginisasi militer oleh Orkhan tidak hanya dalam bentuk mutasi personil-personil pemimpin, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari dan Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negara-negara non-muslim.
Di samping Jenisseri, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau militer Thaujjah. Angkatan lautpun dibenahi, karena ia memiliki peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke-16 angkatan laut Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Utsmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini adalah tabiat bangsa Turki yang bersifat militer, disiplin dan patuh terhadap peraturan.[14]
E. Perluasan Wilayah Turki Utsmani
Setelah Utsman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Utsman (raja besar keluarga Utsman), pada tahun 1300 M. setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluas. Turki Utsmani menyerang perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota kerajaan.
Pada masa pemerintahan Orkhan I dapat menaklukkan Azmir (Asia kecil), tahun (1327), Thawasyani (1330), Uskandar (1338), Ankara (1354), dan Gholipolli (1356). Daerah-derah ini adalah bagian dunia eropa yang pertama kali dapat dikuasai kerajaan Utsmani.
Perluasan wilayah lebih besar terjadi pada masa Murad I. di masa ini, berhasil menaklukkan wilayah Balkan, Adrianopel (sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (ibukota Bulgaria) dan seluruh wilayah utara Yunani. Melihat kemenangan yang diraih oleh Murad I, kerajaan-kerajaan Kristen di Balkan dan Eropa timur menjadi Murka. Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Hongaria, Bulgaria Serbia dan Walacia (Rumania), untuk menggempur Dinasti Utsmani. Meskipun Murad I tewas dalam pertempuran tersebut, kemenangan tetap dipihak Dinasti Utsmani. Sultan Bayazid naik tahta tahun 1389 M. dengan mendapat gelarYaldirin atau Yaldrum yang berarti kilat, karena terkenal dengan serangan-serangannya yang cepat terhadap lawan-lawannya. Perluasan wilayah terus berlanjut dan dapat menguasai Salocia danMorea.
Puncak ekspansi terjadi pada masa Sultan Muhammad II dilakukan ekspansi kekuasaan Islam secara besar-besaran. Kota penting yang berhasil ditaklukannya adalah Konstantinopel (kota kerajaan Romawi Timur) yang ditaklukkan pada tahun 1453. setelah ditaklukkan, kota tersebut diubah namanya menjadi Istanbul (tahta Islam). Kejatuhan Konstantinopel ke tangan Dinasti Utsmani memudahkan tentara Usmani menaklukkan wilayah lainnya, seperti Serbia, Albania dan Hongaria.[15]
F. Kemunduran Turki Utsman
1. Faktor internal
a. Luasnya kekuasaan dan buruknya sistem pemerintahan yang ditangani oleh orang-orang berikutnya yang tidak cakap, hilangnya keadilan, korupsi, meningkatnya kriminalitas.
b. Heterogenitas penduduk dan agama.
c. Kehidupan istimewa yang bermegahan dari para penguasa kerajaan.
d. Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang pada sebagian besar Turki mengalami kekalahan. Di satu sisi negara mengalami defisit, sementara di sisi lain uang negara dihambur-hamburkan untuk kepuasan dan kesenangan penguasa.
2. Faktor eksternal
a. Timbulnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk terhadap kerajaan Turki Utsmani mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut, maka kesempatan itulah mereka bangkit untuk melepaskan diri dari cengkraman kerajaan tersebut.
b. Terjadinya kemajuan teknologi di Barat, khususnya dibidang persenjataan. Sementara di Turki mengalami stagnasi ilmu pengetahuan, sehingga ketika terjadi kontak senjata, Turki mengalami kekalahan karena masih menggunakan senjata tradisional.[16]

IV. Kesimpulan
Dalam pelaksanaan pemerintahan, penguasa-penguasa imperium Utsmani bergelar Sultan dan khalifah sekaligus. Sultan ialah gelar mereka untuk masalah-masalah duniawi, sedangkan khalifah merupakan gelar untuk urusan keagamaan. Sistem pemerintahan Utsmani banyak mengadopsi praktik kenegaraan yang berlaku di Bizantium dan Persia. Untuk menjalankan kedua fungsi ini penguasa Utsmani dibantu oleh tiga kekuasaan, yaitu administrasi birokrasi (Men of the Pen), Militer (Men of the Sword) dan kekuasaan agama (Men of Religion).
Selama kerajaan Turki Utsmani berkuasa, terdapat 38 sultan yang pernah menjabat. Pada masa itu terjadi dinamika sosial dan politik dalam kerajaan Utsmani yang meliputi kondisi sosial politik, perundangan dan hukum, administrasi negara, peradilan dan hubungan internasional.
Selama pemerintahan kerjaan Turki Utsmani ada banyak kemajuan yang telah dicapai baik dari bidang keilmuan, ekonomi dan perpajakan, perdagangan, industri dan pertanian maupun militer dan pertahanannya.
Perluasan wilayah terjadi pada masa pemerintahan Orkhan I, Murad I dan puncak ekspansi terjadi pada masa Sultan Muhammad II yang dilakukan secara besar-besaran. Kota penting yang berhasil ditaklukan adalah Konstantinopel (kota kerajaan Romawi Timur).
Kerajaan Utsmani mengalami kemunduran disebabkan oleh faktor Internal dan Eksternal diantaranya yaitu Luasnya kekuasaan dan buruknya sistem pemerintahan, Heterogenitas penduduk dan agama dan Timbulnya gerakan nasionalisme.

V. Penutup
Demikianlah makalah tentang perkembangan fiqh siyasah pada masa Turki Utsmani. Semoga dapat memberi informasi manfaat dan informasi kita tentang perpolitikan yang terjadi pada masa Turki Utsmani. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah kami. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan makalah selanjutnya.

[1] Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (Jakarta: Prenamedia Group, 2014), hlm 111.
[2] Abdul Syukur al- Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, (Yogyakarta : Saufa, 2014), hlm. 410-414
[3] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad xx), (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2003), hlm. 363
[4] Abdul Syukur al- Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap,...hlm. 414-415
[5]Abdul Chair, dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah), (Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), hlm. 236-237.
[6] Ahmad Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam Imperium Turki Utsmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), hlm. 41
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 135
[8] Taufik Abdullah, dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 236
[9] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Melacak Akar-Akar Sejarah, sosial, Politik dan Budaya Umat Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 185-186
[10] Http://kickyestiga.blogspot.com/2013/06/sejarah-peradaban-islam-pada-masa-turki.html, diakses pada hari Sabtu, Tanggal 18 April 2015, Pukul 17.22 WIB.
[11] Http://id.wikipedia.org/wiki/Ekspedisi_Utsmaniyah_ke_Aceh, diakses pada hari Sabtu, Tanggal 18 April 2015, Pukul 22.20 WIB.
[12] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam,....hlm. 187-188
[13] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 497-498
[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,.... hlm. 133-135
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,.... hlm. 130-132
[16] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam,...hlm. 191-192

Dikirim pada 15 Juni 2015 di Tugas UAS


Cara Membuat POWER POINT



1. Buka Laptop/natebook
2. Klik menu Microsoft Power Point
3. Klik menu Design > Background style > Picture of texture fill > file
4. Memilih gambar yang akan dijadikan sebagai background power point
5. Jika sudah menentukan gambar yang dipilih, kemudian klik insert > klik close pada tampilan menu format background
6. Setelah memilih background, tulis Nama dan NIM serta nama perguruan tinggi.
7. Kemudian pilih theme fonts yang diinginkan, tulisannya diatur besar kecilnya kemudian diberi warna sesuai dengan yang diinginkan.
8. Tambahkan efek animasi pada teks atau gambar, klik costume animation kemudian klik teks yang akan di beri animasi, lalu pilih add effect.
9. Agar lebih menarik, ditambahkan suara dengan cara klik no sound dan atur kecepatan animasi di kolom fast.
10. Untuk menambah penasaran, saya tambahkan gambar waktu hitung mundur bergerak dari 5-1.
11. Selanjutnya tambah slide di menu home, kemudian klik new slide lalu pilih layout yang dibutuhkan.
12. Pilih gambar background, tulis tema materi yang akan disampaikan kemudian untuk menulis sub pembahasan yang akan disampaikan klik Insert > Smart Art > Process kemudian tulis sub pembahasan meliputi pengertian, macam-macam, keutamaan dan video.
13. Pilih warna tulisan sesuai dengan background yang dipilih. Atur animations yang diinginkan.
14. Klik new slide > pilih background > pilih gambar animasi kartun > klik insert > klik shapes > klik callouts > tulis materi > pilih warna tulisan > klik custom animations > > klik add effect > pilih effect yang diinginkan.
15. Klik new slide > pilih background > klik insert > klik smart Art > klik hierarchy > tulis materi > tambahkan gambar yang sesuai dengan macam-macam akhlak terpuji > pilih warna tulisan > klik custom animations > klik add effect > pilih effect yang diinginkan.
16. Klik new slide > pilih background > tulis materi > pilih warna tulisan > klik custom animations > klik add effect > pilih effect yang diinginkan.
17. Klik new slide > pilih background > tulis petunjuk melihat video pembelajaran > klik insert > klik shapes > klik block arrows > pilih tanda panah > klik shapes lagi > pilih salah satu action buttons.
18. Kemudian akan muncul actions settings > klik hyperlink to > pilih video yang akan ditampilkan.
19. Klik new slide > pilih background bergerak tulisan “ Terima kasih” dan gambar senyum.
20. Setelah selesai dibuat kemudian diedit dan klik slide show untuk melihat hasil keseluruhan (full screen).
21. Kemudian disimpan pada folder yang diinginkan dan siap untuk di presentasikan.

Dikirim pada 15 Juni 2015 di Tugas UAS


https://www.youtube.com/watch?v=Ugx5DkubkkE

Dikirim pada 07 Mei 2015 di Uncategories


I. Pendahuluan
Pada waktu-waktu ke belakang ini, konsumsi alkohol diseluruh dunia tampaknya semakin meningkat. Dan sebagai akibatnya, hampir semua Negara harus menghadapi semakin banyak masalah yang timbul akibat pemakaian alkohol dan alkoholisme. Terlepas dari bahaya yang ditimbulkan terhadap kesehatan umat manusia, ternyata hal ini menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Terjadinya kecelakaan lalu-lintas industri, pemborosan kerja, serta biaya untuk merawat serta merehabilisasi “manusia-manusia alkohol”, cukup dijadikan contoh besarnya akibat yang ditimbulkan.[1]
Banyak sudah cara penanganan masalah khamr dalam masyarakat yang telah diusulkan dan dicoba sepanjang sejarah manusia. Diantaranya adalah larangan total. Juga berbagai jenis dan ragam pengendalian secara legislatif untuk mengatur produksi dan konsumsi minuman yang mengandung alkohol. Akan tetapi tak satupun diantaranya yang dapat dikatakan sanggup memecahkan masalah tersebut. Lalu bagaimanakah Islam mengatur hukum mengenai meminum khamr, adakah cara untuk mengurangi konsumsi khamr?. Berikut akan dijelaskan oleh pemakalah mengenai hukum meminum minuman keras perspektif Islam.

II. Rumusan Masalah
A. Apakah yang dimaksud dengan khamr?
B. Bagaimana dasar hukum larangan khamr?
C. Apa sajakah unsur-unsur Jarimah khamr ?
D. Bagaimanakah hukuman untuk jarimah khamr ?
E. Bagaimanakah pembuktian untuk jarimah khamr ?

III. Pembahasan
A. Pengertian Khamr
Khamr adalah minuman memabukkan. Khamr dalam bahasa arab berarti “menutup” kemudian dijadikan nama bagi segala yang memabukkan dan menutup aurat. Selanjutnya, kata khamr dipahami sebagai nama minuman yang membuat peminumnya mabuk atau gangguan kesadaran. Sedangkan menurut bahasa al-Qur’an minuman khamr adalah minuman yang terbuat dari biji-bijian atau buah-buahan yang melalui proses begitu rupa sehingga dapat mencapai kadar minuman yang memabukkan.[2]
Khamr yang disebut orang kita tuak itu berasal dari perasan air anggur. Demikian makna yang asli menurut idmak. Pengarang kitab al-Hidayah menerangkan, khamr menurut ahli ilmu dan yang terkenal oleh bahasa yaitu minuman yang berasal dari perasan air anggur. Menurut al- Raqib khamr itu nama tiap-tiap minuman yang memabukkan, dan menamakan air anggur itu khamr, atas nama majazi bukan hakiki. Menurut keterangan lain tiap-tiap yang menutupi akal pikiran dinamakan khamr. Demikian menurut ahli bahasa seperti al-Jauhary, Abu Nashar al- Qusyairi, al- Dinury, dan pengarang kamus Firuzaabadi. Menurut ini adalah khamr atau tuak itu dari pada perasan air anggur, tamar, gandum, beras, manisan tebu dan seumpamanya, karena minuman keras itu semuanya memabukkan dan menghilangkan akal atau menutup akal pikiran.[3]
Nama-nama minuman memabukkan yang terkenal dikalangan ulama-ulama fiqh ialah: bith’a terbuat dari madu; alji’ah terbuat dari tape gandum; al-mudzur terbuat dari tape jagung, ia juga disebut sukrukah; al-fadich terbuat dari tamar muda tanpa kena api; kholitain terbuat dari tamar muda dan tamar masak.[4]
B. Dasar Hukum Larangan Khamr
Islam melarang khamr (minuman keras) secara berangsur-angsur, karena pada saat itu minuman keras sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Menurut Sayid Sabiq, sampai dengan masa Nabi saw. Hijrah dari Mekah ke Madinah, masih banyak orang yang minum minuman keras (khamr) sehingga banyak pertanyaan dari kaum muslimin kepada Nabi Muhammad tentang khamr ini. Kemudian turunlah ayat Al Qur’an dalam Surat Al Baqarah ayat 219 :
y7tRqè=t«óo„ ÇÆtã ̍ôJy‚ø9$# ΎÅ÷yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 štRqè=t«óo„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 šÏ9ºx‹x. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã3xÿtFs? ÇËÊÒÈ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”

Pada tahap yang kedua turunlah ayat yang melarang sholat ketika sedang mabuk, yaitu surat An Nisa ayat 43 :
$pkš‰r`¯»tƒ tûïÏ%!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/tø)s? no4qn=Á9$# óOçFRr&ur 3“t»s3ߙ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “̍Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=ÅtFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. #ÓyÌóD ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêóyJ»s9 uä!$|ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJJu‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) !$# tb%x. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.”

Meskipun sebenarnya ayat tersebut berisi larangan untuk minum muniman keras, namun karena belum dinyatakan secara tegas, masih banyak orang yang mengonsumsinya, sehingga suatu ketika pernah terjadi keributan dan perkelahian. Barulah pada tahap yang ketiga turun ayat yang melarang dengan tegas perbuatan minum minuman keras yang tercantum dalam Surat Al Maidah ayat 90 :
$pkš‰r`¯»tƒ tûïÏ%!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅøŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_͑ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Menurut Qatadah, Allah mengharamkan khamr dalam Surat Al Maidah ayat 90 ini setelah terjadinya Perang Ahzab pada tahun keempat atau kelima Hijriyah.[5]
Selain ayat-ayat tersebut, terdapat pula beberapa hadits ynag memperkuat larangan terhadap khamr ini dan sekaligus menjelaskan hukumannya. Hadits- hadits tersebut antara lain sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ : كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍحَرَامٌ (مسلم)
Segala yang memabukkan itu adalah khamr dan semua jenis khamr itu haram. (HR. Muslim).

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَلَدَ فِى اْلخَمْرِ بِاْلجَرِيْدِ وَ النِّعَالِ. وَ جَلَدَ اَبُوْ بَكْرٍ اَرْبَعِيْنَ (احمد و البخارى و مسلم)
Dari Anas, sesungguhnya Nabi SAW pernah memukul (orang) karena minum khamr dengan pelepah kurma dan sandal. Dan Abu Bakar mendera 40 kali. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

C. Unsur-unsur Jarimah
Unsur-unsur jarimah minuman khamr ada dua macam, yaitu :[6]
1. Asy Syurbu ( meminum).
Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian As Syurbu (meminum). Menurut Imam Malik, Imam Syafi,i dan Imam Ahmad sebagaimana dikutip oleh Abdul Qadir Audah bahwa pengertian As Syurbu (meminum) adalah minum minuman yang memabukkan baik minuman tersebut dinamakan khamr maupun bukan khamr, baik berasal dari perasan anggur maupun berasal dari bahan-bahan yang lain. [7]
Sedangkan pengertian As Syurbu menurut Imam Abu Hanifah adalah meminum minuman khamr saja, baik yang diminum itu banyak maupun sedikit.
Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa khamr menurut Imam Abu Hanifah adalah minuman yang diperoleh dari perasan anggur. Dengan demikian Abu Hanifah membedakan antara khamr dan muskir. Khamr hukum meminumnya tetap haram baik sedikit maupun banyak. Adapun selain khamr, yaitu muskir yang terbuat dari bahan-bahan selain perasan buah anggur yang sifatnya memabukkan, baru dikenakan hukuman apabila orang yang meminumnya mabuk. Apabila tidak mabuk maka pelaku tidak dikenai hukuman.
Sesuai dengan pengertian As Syurbu (meminum) yang telah dikemukakan diatas, Imam Malik, Imam Syafi,i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa unsur As Syurbu terpenuhi apabila meminum sesuatu yang memabukkan. Dalam hal ini tidak diperhatikan nama dari minuman itu dan bahan apa minuman itu diproduksi. Dengan demikian tidak ada perbedaan apakah yang diminum itu dibuat dari perasan buah anggur, gandum, kurma, tebu, maupun bahan-bahan yang lainnya. Demikian pula tidak diperhatikan kadar kekuatan memabukkannya, baik sedikit maupun banyak hukumannya tetap haram.
Akan tetapi Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa unsur pertama ini tidak dapat terpenuhi kecuali apabila yang diminum itu khamr, sebagaimana yang telah penulis uraikan diatas.
Apabila pendapat jumhur ulama tersebut kita ikuti maka semua jenis bahan yang memabukkan hukumnya tetap haram, seperti ganja, kokain, heroin dan semacamnya.[8]Hanya saja karena meminum merupakan unsur penting dalam jarimah minuman khamr maka bahan-bahan yang dikonsumsi tidak dengan jalan diminum, seperti ganja, kokain, heroin, dan semacamnya tidak mengakibatkan hukuman had melainkan ta’zir.
Seseorang dianggap meminum apabila barang yang diminumnya telah sampai ke tenggorokan. Apabila meminum tersebut tidak sampai ke tenggorokan maka tidak dianggap meminum, seperti berkumur-kumur. Demikian pula termasuk kepada perbuatan meminum, apabila meminum minuman khamr tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan haus, padahal ada air yang dapat diminumnya. Akan tetapi, apabila hal itu dilakukan karena terpaksa (darurat) atau dipaksa, pelaku tidak dikenai hukuman.
2. Adanya niat yang melawan hukum.
Unsur ini terpenuhi apabila seseorang melakukan perbuatan minum minuman keras (khamr) padahal ia tahu bahwa apa yang diminumnya itu adalah khamr atau muskir. Dengan demikian, apabila seseorang minum minuman yang memabukkan tetapi ia menyangka bahwa apa yang diminumnya itu adalah minuman biasa yang tidak memabukkan maka ia tidak dikenai hukuma had, karena tidak ada unsur melawan hukum.
Apabila seseorang tidak tahu bahwa minuman khamr itu dilarang, walaupun ia tahu bahwa barang tersebut memabukkan maka dalam hal ini unsur melawan hukum (qasad jina’i) belum terpenuhi. Akan tetapi, alasan tidak tahu hukum tidak bisa diterima dari orang-orang yang hidup dan berdomisili di negeri dan lingkungan Islam.

D. Hukuman Untuk Jarimah Khamr
Al-Qur’an tidak menegaskan hukuman bagi pelakunya. Hal itu diletakkan oleh Nabi yang melalui sunnah fi’liyahnya diketahui bahwa hukuman dari jarimah ini adalah empat puluh kali dera. Abu Bakar mengikuti jejak ini. Tetapi, Umar ibn Khattab menjatuhkan delapan puluh kali dera. Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, sanksi minimum khamr adalah delapan puluh kali dera, sedangkan menurut Imam Syafi’i adalah empat puluh kali dera, tetapi ia kemudian menambahkan bahwa Imam boleh menambah menjadi delapan puluh kali dera. Jadi yang empat puluh kali dera adalah hukuman had, sedangkan sisanya adalah hukuman ta’zir.[9]
Adapun sebab terjadinya perbedaan dalam penentuan hukuman ini adalah karena nas yang qath’i yang mengatur tentang hukuman had bagi peminum khamr ini tidak ada. Di samping itu, tidak ada riwayat yang memastikan adanya ijma’ sahabat dalam penetapaan hukuman had bagi peminum khamr, sebagaimana yang dikemukakan oleh satu kelompok. Walaupun al-Qur’an mengharaamkan khamr, yang kemudian diperkuat oleh hadits Nabi, namun, untuk hukumannya sama sekali tidak ditetapkan secara pasti. Rasulullah menghukum orang yang meminum khamr dengan pukulan yang sedikit atau banyak, tetapi tidak lebih dari empat puluh kali. Abu Bakar juga demikian. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, beliau bingung memikirkan orang-orang yang bertambah banyak meminum khamr. Beliau mengadakan musyawaarah dengan para sahabat untuk menetapkan hukumannya. Diantara sahabat yang berbicaara adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau mengatakan bahwa hukuman had yang paling ringan atau rendah adalah delapan puluh kali dera. Sayyidina Umar akhirnya menyetujui pendaapat tersebut dan ditetapkan sebagai keputusan bersama, yang kemudian dikirimkan ke daaerah-daerah antara lain Syam yang waktu itu penguasanya Khalid dan Abu Ubaidah.
Fuqaha’ yang menganggap bahwa hukuman had untuk peminum khamr itu delapan puluh kali berpendaapat baahwa para sahabat telah sepakat (ijma’), sedangkan ijma’ merupakan salah satu sumber hukum (dalil) syara’. Akan teapi, mereka yang berpendapat bahwa hukuman had bagi peminum khamr itu empat puluh kali dera beralasan dengan sunnah, yang menjilid meminum khamr dengan empat puluh kali dera, yang kemudian diikuti juga oleh khalifah Abu Bakar. Mereka berpendapat bahwa tindakan Nabi SAW. Itu merupakan hujjah yang tidak boleh ditinggalkan karena adanya perbuatan orang lain dan ijma’ tidak boleh terjadi atas keputusan yang menyalahi perbuatan Nabi dan para sahabat. Dengan demikian, mereka menafsirkan kelebihan empat puluh dera dari Sayyidina Umar itu merupakan hukuman ta’zir yang boleh diterapkan apabila imam (hakim) memandang perlu.
Dari uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa para ulama sepakat, hukuman dera yang empat puluh kali jelas merupakan hak Allah, yaitu merupakan hukuman had, sehingga hukuman tersebut tidak boleh dimaafkan atau digugurkan. Akan tetapi, dera yang empat pulu lagi diperselisihkan para ulama. Sebagian menganggapnya sebagai had yang waajib dilaksanakan bersama-sama dengan dera yang empat puluh tadi, dan sebagian menganggapnya sebagai ta’zir yang penerapannya diserahkan kepaada pertimbangan ulil amri (imam/hakim).[10]
E. Pembuktian Untuk Jarimah Khamr
Pembuktian untuk jarimah khamr dapat dilakukan dengan tiga cara, sebagai berikut:
1. Dengan saksi
Jumlah minimal saksi yang diperlukan untuk pembuktian jarimah hukum minum khamr adalah dua orang yang memenyhi syarat-syarat persaksian, sebagaimana yang telah diuraikan dalam jarimah zina dan qadzaf. Disamping itu, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yuyuf mensyaratkan masih terdapatnya bau minuman pada saat dilaksanakannya persaksian. Dengan demikian, kedua imam ini mengaitkan persaksian dengan bau minuman keras (khamr). Akan tetapi, imam Muhammad Ibn Hasan tidak mensyaratkan hal ini.
Syarat lain yang dikemukakan oleh imam Abu Hanifah dan murid-muridnya adalah persaksian atau peristiwa minum khamrnya itu belum kadaluarsa. Batas kadaluarsa menurut imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf adalah hilangnya bau minuman. Adapun menurut Muhammad Ibn Hasan batas kadaluarsanya adalah satu bulan. Adapun menurut imam-imam yang lain, tidak ada batas kadaluarsa dalam persaksian untuk membuktikan jarimah minum khamr ini.
2. Dengan Pengakuan
Jarimah minum khamr ini dapat dibuktikan dengan adanya pengakuan dari pelaku. Pengakuan ini cukup satu kali tidak perlu di ulang-ulang sampai 4 kali. Ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk pengakuan dalam zina juga berlaku dalam jarimah minuman khamr ini.
Imm Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf mensyaratkan pengakuan tersebut belum kadaluarsa. Akan tetapi, imam-imam yang lain tidak mensyaratkannya.
3. Dengan Qarinah
Jarimah minuman khamr dapat dibuktikan dengan qarinah atau tanda. Qarinah tersebut antara lain:
a. Bau minuman
Imam Malik berpendapat bahwa bau minuman keras dari mulut orang yang meminum merupakan suatu bukti dilakukannya perbuatan minum khamr, meskipun tidak ada saksi. Akan tetapi Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan pendapat yang rajih dari Imam Ahmad berpendapat bau minuman semata-mata tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti, karena mungkin saja sebenarnya ia tidak minum, melainkan hanya berkumur-kumur, atau ia menyangka apa yang diminumnya itu adalah air bukan khamr.
b. Mabuk
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mabuknya seseorang sudah merupakan bukti bahwa ia melakukan perbuatan meminum khamr. Apabila dua orang atau lebih menemukan seseorang dalam keadaan mabuk dan dari mulutnya keluar bau minuman keras maka orang yang mabuk itu harus dikenai hukuman had yaitu dera 40 kali. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Malik. Akan tetapi, Imam Syafi’i dan salah satu pendapat Imam Ahmad tidak menganggap mabuk semata-mata sebagai alat bukti tanpa ditunjang dengan bukti yang lain. Sebabnya adalah adanya kemungkinan minumnya itu dipaksa atau karena kesalahan.
c. Muntah
Imam Malik berpendapat bahwa muntah merupakan alat bukti yang lebih kuat daripada sekedar bau minuman, karena pelaku tidak akan muntah kecuali setelah meminum minuman keras. Akan tetapi Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam satu pendapatnya tidak menganggap muntah sebagai alat bukti, kecuali apabila ditunjang dengan bukti-bukti yang lain, mislanya terdapatnya bau minuman keras dalam muntahnya.[11]
IV. Kesimpulan
Khamr merupakan segala jenis minuman baik yang terbuat dari biji-bijian maupun lainnya yang bersifat memabukkab sehingga seseorang yang meminumnya dapat kehilangan kesadaran atau akalnya. Hukum dari meminum minuman khamr adalah haram, sehingga apabila terdapat seseorang yang terbukti meminum khamr baik itu yang disaksikan orang lain, pengakuan dirinya sendiri ataupun diketahui tanda-tandanya maka orang tersebut akan dijatuhi hukuman dera sebanyak 80 kali.

V. Penutup
Demikianlah makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Dan semoga apa yang telah kita diskusikan menambah rasa syukur serta menambah iman kita kepada Allah SWT. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah kami selanjutnya. Terima kasih.




[1] Malik Badri, Islam dan Alkoho--em/em--sm, (Bandung: Risalah Bndung, 1983), hlm. 1-2.
[2] Zainudin Ari, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 78.
[3] Muh. Kasim Bakri, Hukum Pidana dalam Islam, (Jakarta: Ramadhani, 1958), hlm.60.
[4] Mansuni, Jinayat: Hukum Pidana Islam, (Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 1981), hlm.99.
[5] Ahmad Wardi Muslih, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2005), hlm 72
[6] Ahmad Wardi Muslih, Hukum Pidana Islam......, hlm.74-76.
[7] Abdullah ibn Qudamah, Al-Mugni, Juz VIII, (Darul Manar, 1967), hlm. 304-305.
[8] Shalih bin Ghanim As- Sadlan, Bahaya Nrkotika Mengancam Umat, (Cet. 1, Jakarta: Darul Haq, 2000), hlm.9.
[9] Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, (Jakarta : Gema Insani Press, 2003), Cet. I, hal. 27-28
[10] Ahmad Wardi Muslih, Hukum Pidana Islam........., hlm. 77
[11] Ahmad Wardi Muslih, Hukum Pidana Islam........., hlm. 78-79

Dikirim pada 02 April 2015 di Makalah
02 Apr

Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama Abatasa Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.

Dikirim pada 02 April 2015 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah ely rosida ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 11.351 kali


connect with ABATASA